Finding: Life’s Grand Purpose

Here’s a thought I’d like to share with you today.

[Inspired by the book I'm currently reading: 'Training Hearts, Teaching Minds', by Starr Meade]

Ever wondered what would happen if something is NOT used according to the original purpose?

Like for example, what would happen if we wanted to whiten up our teeth using white shoe polish?

And, what would happen if we placed some marshmallows into the toaster?

Obviously, it all wouldn’t ‘work’.

Just like how toasters are originally meant for bread, shoe polish is originally designed for shoes.

Basically this principle applies to everything in life, doesn’t it?

THINGS (and I mean, everything) will achieve and produce their BEST results IF they’re used according to their original purpose.

BUT, there’s one big problem.

Many people today are simply not sure of their life’s purpose.

Some people think they live to earn as much as money as possible, or to be famous.

And the reality is, we have seen too many real-life examples of people (even the very famous and wealthy) who in the end said … they felt ‘empty’.

Satisfaction that’s derived from fame and wealth, unfortunately (and realistically), doesn’t last ‘forever’.

It’ll run dry after a while, and they’ll be back, searching for things that can ‘fully satisfy’ them.

Here comes the part that many of us fail to see.

We are created beings, with physical AND spiritual needs.

Our physical needs may be satisfied with all sorts of things like, food, money, fame, and etc.

But spiritually (ie. our soul’s needs), … we can only be satisfied when we return to our Creator.

Because our Creator created us with a purpose.

You make known to me the path of life;
in your presence there is fullness of joy;
at your right hand are pleasures forevermore.
Psalm 16:11

The Westminster Shorter Catechism clearly wrote that ‘Man’s chief end is to glorify God, and to enjoy him for ever’.

God has a purpose when HE created us.

God wants us to know him and to enjoy him, and His presence.

And when we do exactly THAT, as written in Psalm 16:11, we’ll find the fullness of joy and pleasures.

We’ll feel satisfied.

Now the thing is, for us to KNOW about anything, we need to spend time WITH it.

It’s like, a universal rule.

We wouldn’t have known how sweet the scent of a flower is until we stop, pay attention to it, take a deep breath and smell it.

We wouldn’t have enjoyed the sweetness of an apple, until we actually bite into it and find out for ourselves the sweetness of it.

In the same way, we wouldn’t be able to understand nor enjoy God’s presence, wonderful works, and great love for us, if we hadn’t spared any time to discover Him for ourselves.

And so with this, I’d like to invite you all to spend some time next week to discover more about life, its purpose, and especially about what God has done that makes our life meaningful and full of purpose.

Here’s more info about the event:

GOOD FRIDAY – Gospel Rally

Date: Friday, 2 April 2010

Venue: Bartley Christian Church, 4 How Sun Drive (Click HERE for location map)

Speaker: Rev. Stephen Tong

Time:

4.30pm (In Indonesian Language)

7.30pm (In Mandarin, translated to English)

There’ll be a Sunday School service for kids (3yo – 10yo) at the 4.30pm Indonesian service.

And I’ll personally be involved in the Puppet Show Ministry at 4.30pm too! Really hope to see your little ones there!

Anyway, if you CAN make it (and I really hope many of you can), you can always drop me an email too to let me know!

Come to the 7.30pm one next Friday if you understand either Mandarin or English (or both!)

And of course, come to the Indonesian one at 4.30pm, if you know Bahasa Indonesia.

Look forward to seeing many of you there!

Adakah pada kita hati, dan doa?

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” – Matius 28: 19-20.

Ayat yang sudah seringkali kita dengar, lagi dan lagi, tetapi apakah sudah sungguh kita jalankan?

Aku ingat ketika dahulu Tuhan pertama kali memanggilku dan menjadikan aku baru. Semua pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terus menerus terngiang di kepalaku, Tuhan menjawabnya. Semua ketidakyakinanku, Tuhan menjawabnya. Hidup yang dahulu aku hidupi tanpa arah, tanpa tujuan, entah tak tahu ke mana, semuanya berubah. Di dalam Yesus, kutemukan semua jawaban dari setiap pertanyaanku, di dalam Dia kutemukan pengharapan dan kasih yang tidak terbatas.

Perubahan yang besar itu membuatku juga ingin agar orang lain pun boleh merasakannya. Merasakan betapa besar kasih Yesus yang sudah aku rasakan, betapa Ia sudah turun ke dunia, mati di atas kayu salib untuk menebus dosaku, sungguh tak terbayangkan. Dan aku sungguh bersyukur karena Tuhan sudah memakai seorang temanku untuk membawaku kepadaNya.

Teman-teman, Tuhan tidak akan memerintahkan kita mengerjakan sesuatu yang diluar kemampuan kita. Aku pun seringkali merasa takut, takut salah ngomong, merasa tidak bisa berkata-kata dengan baik, yah basically merasa tidak bisa. Ya benar, memang kita semua penuh dengan kekurangan, tetapi kekurangan yang kita miliki tidak seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk melupakan apa yang Tuhan Yesus sendiri perintahkan untuk kita jalankan…

Pertama, sudahkah teman-teman memiliki hati untuk melihat orang-orang disekitar teman-teman merasakan perubahan, kasih, dan penebusan yang teman-teman sudah rasakan, dan melihat mereka kembali kepada Tuhan? Kalau belum, berdoalah agar Tuhan memberikan teman-teman hati dan api untuk menginjili.

Kedua, apakah teman-teman sudah mendoakan secara sungguh-sungguh untuk kesempatan teman-teman bisa bersaksi tentang Kristus di mana pun teman-teman berada? Sudahkah teman-teman berdoa secara khusus untuk orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar teman-teman? Sudahkah teman-teman berdoa agar Tuhan memakai teman-teman juga?

Ketiga, apakah teman-teman mau rendah hati dan belajar?

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” - Roma 10: 14.

Johannes Ardiant

You

Pagi ini, di perjalanan aku menuju ke site (project), aku baca buku di MRT sambil menunggu waktu… karena terlalu asik baca, ga sadar kalo MRT sudah sampai ke tempat tujuan dan aku harus segera turun.. Karena barang bawaan yg banyak hari ini, dan terburu-buru, ga sengaja buku yang aku baca itu lecek (kelipat) dari halaman depan sampai bagian agak tengah.

“OH NOOO!!!!” dalam hati. “Ini bukan buku aku… buku pinjaman…” Aku langsung beres-beresin  dan mencoba meluruskan kertasnya; dan GA BISA!! “GAWATT.. panikkk,” dalam hati bilang, “ntar kalau udah pulang sampai rumah, mau aku setrika deh, aku harus balikin buku ini ke orang yang punya seperti semula.”

Waktu udah turun dari MRT, aku harus jalan sekitar 15 menit sampe lokasi site (project). Di perjalanan aku mikir dan merenung, “Bagaimana caranya aku harus benerin sampai aku lelah dan berpikir, ‘Kenapa merusak lebih mudah daripada memperbaiki?‘” Kertas kelipat gampang, mungkin cuma beberapa detik. Sebaliknya untuk benerinnya, pake setrika, pake ditekan-tekan, gimana caranya, pokoknya harus kembali seperti semula… “Kenapaa??”

merenung….
merenung….
merenung…

berpikir…
…..
…..

Kenapa kita dapat dengan mudahnya merusak sesuatu dari pada memperbaiki sesuatu?
……
……

muncul kata STANDAR dalam hati…
…..
…..

Jawabannya, karena “merusak” tidak memerlukan STANDAR, sedangkan “memperbaiki” menggunakan STANDAR.

Standar aku adalah untuk mengembalikan kertasnya kembali seperti keadaan semula. (makanya jadi repot).

Yang lagi aku bahas disini, ga terlalu penting. “aduhhh cuma buku duank, lecek, kelipet, rusak, masih bisa beli baru, ga penting untuk di bahas disini.”

Tapi bagaimana kalau kata “buku”, diganti dengan nama kita?

“Aduhhh cuma Siti, Susi, Joko, atau Kartijo doank, lecek, kelipet, rusak, hilangg… masih bisa beli baru.”

Lalu bagaimana kalau “aduhhh cuma MANUSIA doank, rusak, hancur, bobrok juga gpp”

MANUSIA yang udah RUSAK harus diperbaiki, diperbaiki dengan standar. Harus kembali seperti semula.. apa yang harus dilakukan?

Aku cuma merenung.. Tuhan adalah Pemilik yang sangat baik. Ia tidak marah ketika mengetahui bahwa “buku”-Nya rusak. (kalau aku punya tas CHANEL seharga $4000an lalu ketumpahan minuman atau tinta sama orang, aku kemungkinan besar akan marah)

Waktu manusia jatuh dalam dosa, manusia udah turun standar, manusia udah turun harga, turun dari awal pertama kali manusia dicipta! Tuhan tidak marah, mencaci maki, menghujam dengan kata-kata kasar. Tuhan ga bilang “aaaaarrrggghhhh kamu gilaaaa, ini manusia Aku cipta dengan harga Aku, aku gambar, Aku desain, segambar dan serupa dengan Aku, hasil karya terbaik Aku.” Tetapi, TUHAN — waktu Ia mengetahui bahwa manusia makan buah dari pohon pengetahuan yg baik dan jahat, kejatuhan manusia pertama — TUHAN membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa! (baca Kejadian 3:21)

Kadang aku pikir Tuhan itu sangat-sangat tak terkatakan. LUAR BIASA. AWESOME!!

Tuhan memperbaiki manusia, IA mau kita kembali seperti semula. Tapi manusia udah terlalu bobrok, terlalu hancur, terlalu “lecek dan kusut” untuk dibenerin.. Terlalu jauh gap-nya dengan Allah.

TUHAN. IA turunn, terjun langsung, turun tangan, untuk memperbaiki…

…SALIB…

bukti karya-Nya… ”Salib menjadi bukti: MEMPERBAIKI yang TERBAIK sepanjang sejarah dunia.”

Well…
Aku hanya ingin sharing, mari teman… kembali mengingat, kalau kita ini sebenernya manusia yg mungkin udah lecek, kusam, kumal, penuh dosa. Tapi Tuhan dengan kasih-Nya, Ia ingin kita kembali, serupa dengan gambaran-Nya. Rendahkanlah hati, ijinkan IA (sebagai pencipta) memperbaiki kita, mengembalikan kita menjadi seperti semula.

Mari, kita belajar hidup menjadi manusia yang hidup berusaha memenuhi standar ALLAH.

Warm Regards,
Ivena Nathania

Kasih yang menyelamatkan

Sudah sejak lahir saya dikenalkan kepada yang namanya kekristenan, dan setiap Tahun selalu diajak untuk KKR. Saya adalah salah satu orang yang kurang memaknai KKR itu sendiri, saya selalu pikir toh yah sama – sama aja, datang, bernyanyi, mendengarkan khotbah, persembahan, doa tutup, lalu pulang. Hanya yang berbeda adalah kalo KKR ditambahi altar call. Lagipula, setiap tahun juga ada KKR, jadi ya sudah, ikut – ikutan saja meramaikan.

Sampai suatu kali KKR jumat agung, saya duduk di barisan yang cukup depan. Pada saat altar call, ada sekitar 30 orang yang maju untuk didoakan. Saat itu saya tiba – tiba terharu, saya terharu melihat orang – orang yang hatinya dibukakan Tuhan dan meresponi. Pada saat itu teringatlah ayat yang mengatakan

“Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Luk 15:7)

Mulai dari KKR tersebut, saya bersyukur setiap KKR saya diberikan kerinduan untuk mendoakan orang – orang yang belum mengenal Tuhan, agar Tuhan berbelas kasih membukakan hati mereka pada saat mereka hadir.

Tuhan sudah begitu baik rela mati di atas kayu salib untuk dosa teman – teman, maukah teman – teman membalas sedikit apa yang sudah Tuhan lakukan kepadamu dengan mengajak orang – orang yang kamu kenal tapi belum percaya Tuhan?

Tuhan sudah begitu baik rela dipermalukan, dihina, diludahi sebelum dan ketika Ia naik di atas kayu salib, maukah teman – teman membalas sedikit apa yang sudah Tuhan lakukan kepadamu dengan tidak memperdulikan gengsi dan ketakutan saudara dengan mengajak orang – orang yang kamu kenal tapi beragama lain?

Marilah kita sama – sama berdoa agar kiranya Tuhan bisa memberikan kita hati yang mengasihi orang yang terhilang dan marilah bersama – sama belajar untuk mengajak orang untuk mengenal Tuhan.

Andreas Wong

Sharing KKR

Saya dilahirkan di keluarga Kristen, sudah Kristen dari kecil, dan ikut Sekolah Minggu. Namun, saya tidak begitu peduli dengan Tuhan atau gereja, hanya ke gereja karena dipaksa orang tua saya. Ketika masuk SMP, saya termasuk anak yang cukup nakal, jahil, suka ngomong kotor dan memaki teman yang lain.

Ketika kelas 2 SMP, retreat dari sekolah membuat saya bertobat dan bertemu Tuhan. Saat itu, pengkhotbah menceritakan tentang neraka yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Tapi Tuhan Yesus sudah mati di kayu salib menebus dosa saya dan mampu menyelamatkan saya dari neraka. Malam itu saya bertobat dan menyerahkan diri saya kepada Tuhan. Awalnya saya bertobat karena ketakutan dengan neraka dan saya dengan sungguh-sungguh berjanji mau ikut Tuhan Yesus. Seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan iman saya, saya makin mengerti bahwa Yesus membebaskan saya dari segala dosa, saya tidak perlu takut dengan neraka lagi, dan hidup saya sekarang untuk Tuhan. Tuhan mengasihi umat yang diciptakan-Nya begitu rupa, yang sudah berdosa tapi mampu untuk kembali kepada Tuhan. Saya sungguh bersyukur karena Tuhan mengasihi, menyelamatkan, dan mengijinkan iman saya bertumbuh.

Saya yakin karena kasih Tuhan, saya perlu memberitahu orang akan kasih yang telah saya alami. Mungkin momen Jumat Agung ini bisa mengingatkan kita lagi akan kasih Tuhan yang terlalu besar dan memotivasi kita untuk menceritakannya kepada orang lain.

Indra Kurniawan

Bagaimana berkontribusi?

Mari berkontribusi!

Kirimkan sharing atau refleksi pribadi anda tentang penginjilan, pergumulan-pergumulan anda dan bagaimana Tuhan sudah memakai anda, ke: joardiant at gmail dot com, sehingga kiranya sharing-sharing saudara bisa menguatkan jemaat lainnya.

KKR Jumat Agung 2010, Singapura

Jumat, 2 April 2010
Pk 16.30 – KKR Umum (bhs. Indonesia) dan KKR Anak (Usia 3-10 tahun)
Pk 19.30 – KKR Mandarin trans. Inggris

Bartley Christian Church
4 How Sun Drive – Singapore 538526
(peta lokasi)

Info: +65 6473 6919 Email: info@stemi.ws